Selasa, 18 Februari 2020

Dewan Peternakan Sebut Stok Jagung Langka Sejak Maret

Cirebon - PT Pabrik Gula Rajawali II meningkatkan peternakan ayam terpadu di tempat seluas 25 hektare di sisa PG Gempol, Kabupaten Cirebon.

Untuk step pertama, target produksi dari peternakan ayam terpadu ini menghasilkan ayam pedaging 450 ribu ekor per bulan serta telur 12 sampai 14 ton per bulan.

“Selanjutnya akan ditingkatkan sesuai keperluan usaha,” kata Direktur Penting PT PG Rajawali II, Audry Harris Jolly Lapian di Cirebon, Rabu, 1 Maret 2017.



Nilai investasi peternakan anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia ini sebesar Rp500 miliar serta bekerja penuh pada 2020.

Peternakan ini akan meningkatkan indukan, ayam akan, pakan ternak sampai peningkatan analisa.

“Peternakan ayam itu memakai tehnologi kekinian.

” Salah satunya memakai tehnologi close house, hingga tidak memunculkan polusi, terhitung polusi berbentuk berbau.

Baca: Pemerintah Akan Mengatur Distribusi Ayam Ras Pemerintah Kenalkan Ayam Varietas BaruAds by KioskedHari ini, Audry serta Direktur Penting PT Berdikari United Livestok (PT BULS) AS Hasbi Al Islahi tanda-tangani kesepakatan pemegang saham peternakan itu di kantor PT PG Rajawali II Cirebon.

Penandatanganan itu adalah lanjutan dari persetujuan kedua pihak.

Sekarang peternakan ayam dikendalikan oleh beberapa perusahaan swasta besar.

Dengan masuknya BUMN pada usaha peternakan ayam terpadu, diinginkan dapat ikut memberi dukungan kecukupan protein hewani nasional.

“Sekalipun tidak besar, tetapi jika tidak diawali pada saat ini, kapan ?” kata Audry.

Simak juga:DOC Ayam Kamper Jawa Timur

“Sekitar Mei atau Juni, kami akan mengimpor lima ribu ekor sapi dari Australia,” kata Hasbi.

Dari jumlahnya itu sekitar 4 ribu ekor adalah sapi akan serta 1000 ekor breeding.

Dengan nilai investasi Rp100 miliar, diinginkan pada tahun ke-2 jumlahnya sapi dapat bertumbuh sampai jadi 30 ribu ekor.

Diterangkan Hasbi, mengonsumsi sapi dalam negeri sampai seputar 700 ribu ekor per tahun.

Pada 2012, import sapi akan sampai 700 ribu ekor.

“ini bermakna kita benar-benar bergantung dengan import,” kata Hasbi.

Hingga ketergantungan itu butuh dipotong lewat pembibitan yang dikerjakan di negeri.

“Perusahaan swasta tidak tertarik pada pembibitan sapi sebab mahalnya investasi yang perlu dikeluarkan,” kata Hasbi.

Dengan demikian, BUMN harus dapat masuk.

Sekalinya kecil, tetapi perlahan-lahan dapat kurangi ketergantungan Indonesia pada sapi import.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar