Senin, 25 November 2019
Jumat, 08 November 2019
Anwar Nasution Pemerintah Bohong Sebut Fundamental Ekonomi Kuat
TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution menjelaskan mendasar ekonomi di Indonesia masih lemah. Karena, mendasar ekonomi Indonesia dipandang belum dapat meredam gejolak di luar.
""Bohong pemerintah itu menjelaskan jika mendasar ekonomi Indonesia kuat. Omong kosong,"" katanya di diskusi bertopik ""Dapatkah Menyatu Hadapi Kritis Rupiah?"" di Gado-gado Boplo Menteng, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 September 2018.

Faktanya, kata Anwar yang bekas ketua Tubuh Pemeriksa Keuangan ini, rasio penerimaan pajak pada produk domestik bruto (PDB) masih rendah yang ada di angka 10 %. Bila dibanding dengan negara berkembang yang lain yang ada di angka 20 %, rasio penerimaan pajak Indonesia cuma setengahnya.""Walau sebenarnya kita sudah 73 tahun merdeka. Ngapain merdeka kalau ngutang selalu, pinjam selalu,"" tutur ia.
Lebih jauh, Anwar memandang ekonomi Indonesia sekarang benar-benar riskan pada gejolak di luar negeri yang mengakibatkan bila bunga bertambah karena itu ongkos pembayaran hutang di Indonesiabertambah. Diluar itu, bila kurs bertambahmenyebabkan naiknya harga satu komoditas. ""Tempe, itu harga naik sebab import kedelainya,"" papar ia.
Anwarmenjelaskan instansi keuangan dalam yang berada di Indonesiadipandang masih lemah. Instansi keuangan yang disebut yakni bank pemerintah seperti empat bank negara (BUMN). ""Tujuannya 4 bank negara ini tidak dapat musuh bank-bank seperti CIMB, Maybank dan Development Bank of Singapore.""

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati awalnya menjelaskan pemerintah waspada efek keadaan keuangan Argentina yang di tingkat kritis akhir-akhir ini. ""Kami lihat dari gerakan global pasti kami cermati sebab dinamika yang datang dari sentimen Argentina tinggi sekali,"" kata Sri Mulyani selesai rapat di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 3 September 2018.
Akhir minggu lalu, Bank Sentra Argentina meningkatkan suku bunga acuannya 15 % dari 45 % jadi 60 %. Kebijaksanaan itu diambil untuk menahan kritis Argentina yang membuat nilai ganti peso alami terdepresiasi sampai 45 % pada dolar Amerika Serikat (AS).
Sri Mulyani menjelaskan pemerintah selekasnya menghadapi gejolak ini karena merasakan desakan dari Argentina akan terus berjalan. Diluar itu, ini terkadang diperburuk dengan keadaan ekonomi di negara berkembang yang lain.
"